Pertemuan kami di akhir 2018 datang tanpa rencana, sederhana, namun meninggalkan jejak yang pelan-pelan berubah menjadi cerita.
Di tahun 2019, tanpa banyak janji, kami memilih untuk berjalan bersama—meski tidak tahu bahwa sebagian besar langkah kami akan dipisahkan oleh jarak.
Hampir 7 tahun membuat kami tumbuh dalam sunyi dan rindu.
Ada hari-hari berat ketika kata “sabar” menjadi satu-satunya pegangan.
Kami merasakan lelah, diam, hingga hampir menyerah…
Namun di setiap patah dan perih, selalu ada cinta yang diam-diam menetap dan tidak pergi.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa hubungan tidak selalu tentang seberapa sering bertemu, tetapi tentang seberapa kuat kami memilih satu sama lain, lagi dan lagi, meski dari dua tempat berbeda.
Dan kini, di tahun 2025, setelah melewati sedih, susah, dan ribuan kilometer rindu, kami akhirnya tiba pada bab terindah,
ketika jarak tak lagi menjadi pemisah, dan hati kami pulang pada tujuan yang sama.